Jumat, 01 Januari 2010

Bongko Kopyor Asli Desa Manyar

BONGKO KOPYOR JAJANAN ASLI DESA MANYAR, HIDANGAN SPECIAL BUKA PUASA KHAS GRESIK

Bongko kopyor Manyar, merupakan satu diantara puluhan hidangan khas buka puasa, warga Gresik, Jawa Timur. Hidangan buka puasa, warisan nenek moyang ini, tidak hanya membuat perut menjadi kenyang, tetapi juga berkhasiat memulihkan stamina tubuh, setelah seharian menahan diri dari lapar dan dahaga.

Setiap menjelang datangnya bedug Magrib, ratusan warga memadati pasar kaget, di komplek perumahan Gresik Kota Baru bahkan di sudut-sudut kota Gresik, Jawa Timur, sekedar untuk membeli hidangan spesial buka puasa, yakni bongko kopyor yang hanya ada di bulan Ramadhan.

Bongko Kopyor, merupakan salah satu hidangan khas buka puasa, yang disuka warga Gresik. selain lezat, hidangan terbungkus daun pisang ini, dipercaya berkhasiat memulihkan stamina tubuh, setelah seharian menahan diri dari lapar dan dahaga.

Yu Timah, penghobi santapan bongko kopyor, mengatakan, menyukai Bongko Kopyor, karena rasanya manis, legit, dan segar, sehingga tepat disantap saat buka puasa. sehingga belum lengkap rasanya, jika buka puasa tanpa menikmati kesegaran menu yang telah ada sejak ratusan tahun silan tersebut.

“....tidak lengkap bika puasa, tenpa hidangan bongko kopyor....” kata Yu Timah.

Wak Atun, Pembuat Bongko Kopyor asal Desa Manyar Sidomukti, Kecamatan Manyar, Gresik, mengatakan, bongko kopyor, kepanjangan dari bubur nangka dan kelapa kopyor ini, menggunakan bahan baku tepung terigu, buah kelapa, pisang, nangka, santan kelapa, dan roti tawar.

Berbeda dengan hidangan lain, karena Bongko Kopyor, hanya tersedia saat bulan suci Ramadhan. karena itu, setiap bulan Ramadhan, sebagian besar warga membuat Bongko Kopyor, atau membeli dari pasar kaget, yang ahanya tersedia di bulan suci Ramadhan.

“...makananan ini merupakan warisan nenek moyang, yang hanya dibuat pada bulan suci ramadhan....” kata Wak Atun.

Bongko Kopyor, hingga kini, masih menjadi menu spesial buka puasa, terutama, mereka yang tinggil di pesisir pantai. sedangkan, harga jual bongko kopyor bervariatif, mulai dari Rp 3,000, hingga Rp 5.000, bergantung ukuran kemasannya.

“.. Kenalan saya yang bernama Pak panji yang berasal dari Pacitan sering berkunjung ke desa Manyar pada bulan Ramadhan hanya untuk Bongko kopyor..” Kata penulis.



Haul Bungah

Haul Akbar Bungah

GRESIK : Di jaman moderen saat ini bukan berarti kita melupakan tradisi yang diberikan neneng moyang kita karena apa yang diwariskan beliau-beliau kepada kita bukan isapan jempol belaka atau tanpa tujuan, sebab pendahulu kita pasti punya alasan yang kuat ketika mereka memberi kita warisan leluhur yang harus kita lestarikan setiap tahunnya.

     Ini di buktikan oleh Kec. Bunga Kab. Gresik yang setip tahunnya mengadakan Haul Bungah yang pada tahun ini jatuh pada hari Kamis (21/05/2009), dalam kegiatan tersebut kita bukan hanya mengenang pendahulu-pendahulu kita yang telah menegakkan sariat Islam dengan baik tetapi lebih kepada jalannya suatu silaturahim antar sesama karena mau tidak mau ketika kita menghadiri sebuah haul kita akan bertemu banyak orang dan disitu akan terjadi komunikasi satu sama lain.

     Selain itu dengan banyaknya orang yang berkumpul pada suatu tempak itu akan memberikan dampak ekonomi bagi warga sekitar yang berusaha memanfaatkan situasi yang ada untuk mencari rezeki dengan berjualan berbagaimacam aneka makanan atau biasa kita sebut dengan pasar dadakan. Kita berharap tradisi ini akan terus dilestarikan secara turun-temurun oleh warga masyarakat Kec. Bunga Kab. Gresik sehingga dapat menjadi kebudayaan yang dapat menjadi infestasi yang tinggi bagi daerah tersebut

Rebo Wekasan

Rebo wekasan Tradisi akhir Shafar

Sudah menjadi tradisi di kalangan sebagian umat Islam terutama di masayarakat Islam Jawa merayakan Rebo Wekasan atau Rabu Pungkasan (Yogyakarta) atau Rebo Kasan (Sunda Banten) dengan berbagai cara. Ada yang merayakan dengan cara bersa-besaran, ada yang merayakan secara sederhana dengan membuat makanan yang kemudian dibagikan kepada orang-orang yang hadir, namun diawali dengan tahmid, takbir, zikir dan tahlil serta diakhir dengan do’a.

Ada juga yang merayakan dengan melakukan shalat Rebo Wekasan atau shalat tolak bala, baik dilakukan sendiri-sendiri maupun secara berjamaah. Bahkan ada yang cukup merayakannya dengan jalan-jalan ke pantai untuk mandi dimaksudkan untuk menyucikan diri dari segala kesalahan dan dosa.

Waktu saya masih kecil sekitar tahun 1987 an suka ikut-ikutan merayakan Rebo Wekasan yang dilakukan oleh para orang tua, yaitu dengan cara riungan pagi hari Rabu Wekasan sekitar jam 06.00 di masjid dengan membawa jamuan ketupat dan temannya ada ayam sayur, ayam goreng, ayam bakar dan lain-lain. Riuangan dipimpim oleh imam masjid dan diiringi dengan tahlil dan tahmid serta diakhir dengan do’a tolak bala. Dan setelah itu, jamuan tersebut dibagikan kepada peserta riungan untuk dimakan secara bersama-sama. Namun saat ini, kegiatan tersebut sudah tidak dilakukan lagi, akibat dari pergeseran nilai-nilai sosial di kalangan masyarakat setempat.

Apa yang dimaksud dengan “Rebo Wekasan” ?

Rebo Wekasan adalah hari Rabu yang terakhir pada bulan Shafar. Dari beberapa cara merayakan Rebo Wekasan ada yang mengganjal dalam pikiran penulis yaitu dengan cara melalukan shalat Rebo wekasan yang dikerjakan pada hari Rabu pagi akhir bulan Shafar setelah shalat Isyraq, kira-kira mulai masuk waktu Dhuha. Pada dasarnya Shalat Rebo Wekasan tidak ditemukan temukan adanya Hadits yang menerangkan shalat Rebo Wekasan.

Dalam Islam berbagai shalat baik wajib maupun sunnah telah disebutkan dalam Hadits Nabi saw secara lengkap yang termuat dalam berbagai kitab Hadits, namun shalat Rebo Wekasan tidak ditemukan. Shalat wajib atau shalat sunnah merupakan ibadah yang telah ditentukan Allah dan Rasul-Nya, baik tata cara mengerjakannya maupun waktunya. Tidak dibenarkan membuat atau menambah shalat baik wajib maupun sunnah dari yang telah ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ibadah hanya dapat dilakukan sesuai dengan yang diperintahkan, jika tidak, maka sia-sia belaka.

Ada sebuah buku berjudul “Kanzun Najah” karangan Syekh Abdul Hamid Kudus yang pernah mengajar di Makkatul Mukaramah. Dalam buku tersebut diterangkan bahwa telah berkata sebagian ulama ‘arifin dari ahli mukasyafah (sebutan ulama sufi tingkat tinggi), bahwa setiap hari Rabu di akhir bulan Shafar diturunkan ke bumi sebanyak 360.000 malapetaka dan 20.000 macam bencana. Bagi orang yang melaksanakan shalat Rebo Wekasan atau shalat tolak bala pada hari tersebut sebanyak 4 raka’at satu kali salam atau 2 kali salam dan pada setiap raka’at setelah membaca surat Al Fatihah dilanjutkan dengan membaca surat Al Kautsar 17 kali, surat Al Ikhlas 5 kali, surat Al Falaq 2 kali dan surat An Nas 1 kali. Setelah selesai shalat dilanjutkan membaca do’a tolak bala, maka orang tersebut terbebas dari semua malapetaka dan bencana yang sangat dahsyat tersebut.

Atas dasar keterangan tersebut, maka shalat Rebo Wekasan tidak bersumber dari Hadits Nabi saw dan hanya bersumber pada pendapat ahli mukasyafah ulama sufi. Oleh sebab itu, mayoritas ulama mengatakan shalat Rebo Wekasan tidak dianjurkan dengan alasan tidak ada Hadits yang menerangkannya. Ada pula ulama yang membolehkan melakukan shalat Rebo Wekasan, dengan dalih melakukan shalat tersebut termasuk melakukan keutamaan amal (Fadhailul ‘amal).

Namun sikap yang baik terhadap shalat Rebo Wekasan adalah kembali kepada aturan bahwa semua ibadah didasarkan atas perintah. Sesuai dengan penjelasan yang telah diuraikan di atas, tidak ditemukan dasar perintah atau keterangan yang menjelaskan tentang shalat Rebo Wekasan atau shalat tolak bala, maka shalat Rebo Wekasan tidak perlu dilakukan. Bukankah semua shalat yang kita kerjakan baik wajib maupun sunnah dapat menolak bala? 

Wisata Goa Gelang Agung

Goa Gelang Agung

Goa Gelang Agung terletak di Desa Melirang Kec. Bungah dan jarak antara Desa dari Jl. Raya Bungah – Dukun berjarak +/- 600 m. Goa ini mempunyai mulut yang sangat lebar dan tinggi dengan bagian dalam yang melingkar seperti gelang dan dapat menembus di beberapa tempat yang lain, karena itu goa ini dinamakan dengan nama Gelang Agung.

Goa ini mempunyai panjang kira-kira 4 km dan mempunyai pemandangan seperti pada goa yang lain yang terdiri dari stalaktit dan stalakmit juga dengan batuan kapur yang masih muda. Biasanya tempat ini digunakan untuk tempat penggemlengan para pendekar-pendekar silat yang akan naik tingkat.

Wisata Goa Gelang Agung

Goa Gelang Agung

Goa Gelang Agung terletak di Desa Melirang Kec. Bungah dan jarak antara Desa dari Jl. Raya Bungah – Dukun berjarak +/- 600 m. Goa ini mempunyai mulut yang sangat lebar dan tinggi dengan bagian dalam yang melingkar seperti gelang dan dapat menembus di beberapa tempat yang lain, karena itu goa ini dinamakan dengan nama Gelang Agung.

Goa ini mempunyai panjang kira-kira 4 km dan mempunyai pemandangan seperti pada goa yang lain yang terdiri dari stalaktit dan stalakmit juga dengan batuan kapur yang masih muda. Biasanya tempat ini digunakan untuk tempat penggemlengan para pendekar-pendekar silat yang akan naik tingkat.

Kolak Ayam Gumeno

Tradisi Ramadhan Pesta Kolak Ayam Masjid Gumeno Gresik

PENYEBARAN agama Islam sejak puluhan abad silam  ke negeri kita tidak melulu membawa kepercayaan, ritual dan amalan keagamaan, melainkan pula memberi jiwa, corak dan warna pada kebudayaan bangsa kita. Tatkala Islam berkembang di tanah air, ia sedari awal tidak serta merta secara apriori menolak kebudayaan lokal masyarakat yang telah berkembang sebelumnya. Karenanya kehidupan umat Islam dimanapun senantiasa mengandung aspek globalitas dan aspek lokalitas sekaligus.

Apabila kita cermati, para penyebar agama Islam di negeri ini dalam rentang sejarah perkembangannya memiliki kearifan luar biasa. Mereka mempunyai kesadaran budaya yang sangat tinggi. Budaya dan adat istiadat masyarakat setempat yang mereka temui tidak begitu saja ditentang dan dibuang. Bahkan mereka mampu mendorong terjadinya akulturasi budaya yang melahirkan kebudayaan rakyat (Indonesia) bernafaskan Islam yang khas. Kekhasan itu akan nampak pada keragaman ekspresi budaya dalam bentuk tradisi-tradisi masyarakat yang telah berurat-berakar sejak dulu kala dan lestari hingga kini.

Salah satu contohnya yakni tradisi pesta kolak ayam di Masjid Gumeno yang terletak di Desa Gumeno Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik Jawa Timur. Penggambaran mengenai tradisi ini saya kutip dan ringkas kembali dari Buku Grissee Tempo Doeloe, Penerbit Pemda Kabupaten Gresik Tahun 2004. Selamat membaca.

Acara Pesta Kolak Ayam di Masjid Goemeno Gresik bernuansa religi diadakan pada setiap tanggal 23 Ramadhan (bulan puasa) atau “malem patlikur” (malam tanggal dua puluh empat). Dan telah berlangsung ratusan tahun lamanya semenjak peristiwa pertama pada 1451 Masehi. Pada tanggal tersebut masyarakat Desa Gumeno memiliki tradisi memasak kolak ayam atau orang sana menyebut “sanggring”.

Tradisi ini bermula tatkala seorang penyebar agama Islam, Sunan Dalem namanya, datang ke Desa Gumeno dengan niat dakwah. Ia merintis pendirian sebuah masjid pada 1451 Masehi di desa tersebut. Masjid itu sekarang dikenal dengan nama Masjid Jami’ Sunan Dalem.

Sehabis bekerja keras mendirikan masjid dan mempersiapkan perkampungan baru di desa tersebut, tiba-tiba Sunan Dalem jatuh sakit. Ia memerintahkan warga yang baru pindah dan menjadi santrinya untuk mencarikan obat. Namun setelah berbagai usaha telah dilakukan, sakitnya tak kunjung sembuh. Akhirnya, melalui “sesuatu yang gaib” Sunan Dalem menerima ilham agar sakitnya bisa sembuh.

Pada moementum yang tepat,  Sunan Dalem dengan arif dan bijaksana akhirnya memerintahkan warga berkumpul di masjid dengan membawa ayam jago. Lantas dititahkan untuk menyembelih semua ayam jago yang telah terkumpul.

Kepada beberapa lelaki diperintahkan pula mempersiapkan bumbu-bumbu untuk diracik menjadi resep masakan oleh Sunan Dalem. Bumbu racikan ini antara lain daun bawang merah yang diiris kecil-kecil, gula jawa, jinten dan santan kelapa.  Kepada warga Sunan Dalem mengumumkan kalau dirinya tengah membuat resep masakan Sanggring, yang tak lain adalah Kolak Ayam.

Ayam yang telah dipotong dan telah disiangi, hanya diambil dagingnya saja, “disuwir-suwir” seperti orang “nyuwiri” daging ayam untuk soto. Selanjutnya daging ayam dan resep masakan diolah memakai kuali dari tanah liat dan bahan pembakaran dari kayu bakar. Tradisinya hingga sekarang ini,  hanya kaum lelaki saja dalam mempersiapkan dan mengolah kolak ayam.

Sambil menunggu sanggring atau kolak ayam matang, Sunan Dalem memerintahkan warga pulang ke rumah. Karena waktu itu bulan puasa maka kepada warga diperintahkan kembali ke masjid menjelang sore hari pada saat berbuka puasa dengan membawa nasi dan ketan.

Benar juga, senja hari itu tepat tanggal 23 Ramadhan, Sunan Dalem bersama-sama warga Gumeno berbuka puasa di masjid dengan menu spesial yakni sanggring atau kolak ayam. Jadi kalau sekarang ada acara buka bersama, bisa jadi mengikuti jejak yang pernah dilakukan Sunan Dalem dengan warga Gumeno.

Setelah berbuka puasa bersama dengan menu kolak ayam Sunan Dalem lantas mengumumkan kalau dirinya sembuh dari sakitnya. Namun demikian Sunan Dalem tetap mengatakan kalau kesembuhannya tak lain berkat hidayah dan inayah Allah SWT.

Sebagai ungkapan rasa syukur Sunan Dalem berwasiat kepada warga Desa Gumeno agar setiap tanggal 23 Ramadhan, yang biasanya disebut “malem patlikur”, agar ditradisikan membuat kolak ayam tersebut. Dengan demikian semenjak peristiwa pertama tahun 1451 Masehi itu hingga kini tradisi kolak ayam selalu diperingati warga Desa Gumeno Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik.

Nasi Krawu & Sego Roomo

Nasi Krawu dan Sego Roomo

Kalau mampir ke gresik, selain beli oleh-oleh pudak, sempatkanlah untuk mencicipi nasi krawu. Bayangan anda krawu adalah nasi urap-urap, dengan lauk rebusan sayur-mayur dan bumbu kelapa parutan yang asin pedas plus gurih, ternyata keliru asumsi anda. Krawu menurut cerita berasal dari kata “krawukan”, artinya ambil nasi atau lauk dengan jari tangan langsung, tanpa alat bantu sendok atau lainnya.

Nasi krawu Gresik mirip nasi langgi, yang khas kota Solo, sama-sama didominasi unsur daging, klintrek-klintrek-istilah Umar Kayam untuk menggambarkan masakan yang penuh minyak, lemak atau kaldu. Bahkan lauk utama nasi krawu adalah daging dan jerohan sapi yang dimasak semur. Disajikan di atas daun pisang, nasi krawu dimakan bersama daging sapi yang disuwir-suwir, jerohan dengan sambal terasi pedas pekat, dipadu sambal dari parutan kelapa yang biasa disebut srundheng.

Khusus srundheng terdiri dari tiga macam. Yaitu krawu, abon dan mangot. Krawu berwarna merah pedas, abon berwarna kuning berasa manis. Sedangkan mangot adalah kelapa tidak diparut tetapi ditumbuk dicampur kluwak, rasanya gurih.

*Nasi Roomo
Nasi krawu aslinya bukan dari Gresik, tapi masakan khas Madura, namun di Madura sendiri hampir tidak ada lagi yang memasak nasi krawu. Sebagian besar pedagang nasi krawu berasal dari Madura, atau masih masih punya ikatan saudara. Sedangkan masakan asli bikinan orang Gresik jaman dulu adalah nasi Roomo. Roomo adalah sebuah wilayah di Kecamatan Manyar yang berbatasan langsung dengan wilayah Gresik kota.

Nasi Roomo, sebagian orang menyebutnya bukan nasi, tetapi bubur Roomo, atau sego Roomo. Hingga kini masih bertahan dengan kesederhanaan dan keterbatasan segmentasinya. Di dekat SDN Sukodono dan depan Pasar Karangpoh anda bisa mencobanya disini.

Menurut cerita yang berkembang, nasi ini ada karena pada zaman dahulu ada seorang wanita setengah baya yang kebingungan dalam menghidupi keluarganya sampai suatu ketika dia bertemu waliyullah yang menyarankan dia untuk “menjual desanya,” wanita ini faham dengan perkataan waliyullah tersebut kemudian dia menjual nasi aneh yang sekarang terkenal dengan nasi Roomo.

Bahan makanan dan penyajiannya menggunakan wadah yang khas. Nasinya disajikan dalam takir, wadah segi empat dari daun pisang yang dibuat dengan dua biting ditusukkan pada dua sisi yang saling berhadapan, setelah diratakan diberi bubur. Lauknya berupa sayur koya dan krupuk kulit sapi atau cecek.

Bagi yang belum pernaha merasakan, awalanya rasanya aneh dan neg. Tapi kalo sudah mencoba tiga-empat suap, maka rasa neg lambat laun berganti uenak pol dan gurih. Apalagi setelah menyantap koya, yang terbuat dari kelapa disangrai terus ditumbuk halus dengan bumbu rahasia, rasa gurih tak terhankan lagi. Pokoke maknyuss

Pencak Macan

PENCAK MACAN, KESENIAN WARISAN LELUHUR YANG NYARIS PUNAH

Pencak macan, merupakan salah satu seni warisan leluhur, yang nyaris punah, akibat tergilas roda jaman. Demi menjaga kelestariannya, sejumlah sekolah di Gresik Jawa Timur, mengemasnya menjadi sebuah seni pertunjukkan. Bahkan, seni pengantar pengantin khas warga pesisir utara pilau jawa tersebut, telah dimanfaatkan untuk menjamu tamu manca negara.

Setelah sekian lama terpinggirkan, seni pencak macan, kini mulai dipentaskan dan dimainkan di sejumlah sekolah di Gresik, Jawa Timur. Bahkan, seni warisan leluhur ini, digunakan sebagai seni unggulan, untuk menjamu tamu-tamu manca negara, yang berkunjung ke kota santri, Gresik.

SMA NU satu Gresik misalnya, adalah satu diantara sejumlah sekolah di Gresik, yang berusaha menjaga kelestarian seni khas warga pesisir utara pulau jawa ini. bahkan, di sekolah ini, seni pencak macan, menjadi kegiatan ekstakuler, untuk menambah keterampilan seni para siswa.

Agar disukai remaja, siswa-siswi di sekolah tersebut, mengemas seni pencak macan, menjadi seni pertunjukkan, yang atraktif. perpaduan antara pencak silat, dengan iringan gamelan Jawa dan rebana, membuat seni tradisi ini, mulai disukai kalangan remaja.

Seni pencak macan, merupakan seni khas warga pesisir utara pulau jawa, dengan segala filosofisnya, yang melambangkan perjalanan manusia dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Seni ini, diperankan tiga sosok, dengan tiga karakter yang berbeda, diantaranya macan, melambangkan seorang suami, dengan semangat pantang menyerah. Monyet, melambangkan, seorang isteri, dengan cita-cita yang luhur, untuk mewujudkan keluarga yang sakinah. dan sosok gondoruwo, atau hantu, melambangkan antara murka, yang akan menggoda perjalanan anak manusia dalam mengarungi bahtera rumah tangganya.

Selain mulai disuka remaja Gresik, sejumlah wisatawan manca negera juga tertarik memperlajarinya, diantaranya Yuninja, siswa Woonam Midle School, korea selatan.

Menurutnya, kesenian ini sangat menarik, karena nuansa tradisionalnya cukup kental. Karena itu, dirinya tertarik untuk mempelajari seni ini, sebagai oleh-oleh untuk negaranya.

"seni ini nuansa tradisionalnya cukup kental, dan saya sangat menyukainya" tutur Yuninja, siswa asal Korea Selatan

Pihak sekolah berharap, pemerintah ikut membantu melestarikan seni ini, terutama dengan mengadakan lomba atau festival, agar upaya pelestariannya menjadi lebih bergairah.


Wisata Religi Surowiti


Petilasan Sunan Kalijaga Goa Langseh Surowiti

Petilasan Sunan Kalijogo, Komplek Petilasan Sunan kalijogo terdapat di Desa Surowiti Kecamatan Panceng 35 Km jalur pantura masuk ke Selatan sekitar 4 Km.

Tranportasi dengan kendaraan roda empat sudah dapat mencapai sampai kaki komplek petilasan. Namun untuk kendaraan besar seperti bus masih belum bisa masuk ke area wisata karena jalan yang sempit.

Komplek Petilasan Sunan Kalijogo terdapat di Puncak bukit Surowiti, yang disekitarnya terdapat beberapa buah makam antara makam Empu Supo makam Raden Bagus Mataram, makam mbah Sloko, makam mbah Singo Wongso.

Daya tarik wisata yang ada di komplek petilasan kecuali tempat / petilasan sunan Kalijogo dan beberapa makam tua tersebut, adalah adanya sebuah goa langseh, yang merupakan tempat persembunyian Sunan kalijogo di masa muda yang masih bernama raden Lokojoyo atau yang dikenal sebagai Brandhal Lokojoyo.

Ditempat itulah Brandhal Lokojoyo digembleng dan dididik oleh Sunan Bonang sampai menjadi seorang penyiar agama Islam yang dikenal, dan sekaligus dinobatkan sebagai Sunan Kalijogo.

Pengunjung mayoritas dari daerah sekitar guna menghayati petilasan Sunan Kalijogo, sekaligus berziarah di makam yang ada di sekitar petilasan.

Potensi Wisata Gresik

Kabupaten Gresik memiliki berbagai potensi wisata. Antar alain potensi wisata alam, wisata seni dan budaya, wisata minat khusus.

Potensi wisata alam gresik antara lain :
- Bukit Surowiti
- Goa Gelang Agung
- Giri Wana Tirta
- Pantai Delegan
- Pulau Bawean

Di bidang seni, Kabupaten Gresik memiliki daya tarik :
- seni hadrah
- terbang jidor
- macapat pesisiran
- pencak macan
- kercengan Bawean

Wisata budaya, memiliki obyek wisata religi, antara lain :
- Makam Sunan Giri
- Makam Sunan Prapen
- Petilasan Giri Kedaton
- Makam Maulana Malik Ibrahim
- Makam Nyai Ageng Pinatih
- Makam Raden Santri
- Siti Fatimah binti Maimun
- Makam Kanjeng Sepuh
- Makam Kanjeng Pusponegoro

Wisata minat khusus Kabupaten Gresik memiliki obyek wisata Kampung Kemasan dan kawasan Wisata Adenium.

Selain wisata, Kabupaten Gresik mempunyai daya tarik lainnya yaitu kekayaan kerajinan khas Gresik. Antara lain sarung tenun, songkok, rotan, bordir, damar kurung, batu onix, tikar pandan.

Sedangkan kekayaan kuliner khas Gresik yaitu pudak, nasi krawu, otak-otak bandeng, jubung, ayas, gula aren, petis, keripik bayam. Serta produk olahan hasil laut yang dapat dijadikan souvenir dan oleh-oleh.

Yang tak kalah menarik Kabupaten Gresik juga memiliki peninggalan-peninggalan dan situs-situs bersejarah serta adanya berbagai upacara adat dan acara tradisional, seperti Rebo wekasan, sanggring, malam selikur (tradisi kolak ayam masjid Gumeno), malam selawe, malam pasar bandeng dan tradisi mulud.

Agar menarik minat wisatawan berkunjung ke Gresik, maka saat ini seluruh komponen kepariwisataan Gresik secara intens melakukan pemasaran pariwisata dan meningkatkan kualitas produk pariwisata serta melakukan peningkatan sumber daya manusia yang bergerak di bidang pariwisata.

Makam Nyai Ageng Pinatih

Makam NYAI AGENG PINATIH 

Makam Nyai Ageng Pinatih terletak di tengah-tengah kota Gresik, tepatnya di desa Kebungson  500 meter dari pelabuhan Gresik.

Nyai Ageng Pinatih adalah seorang janda kaya raya yang dipercaya pemerintahan kerajaan Majapahit untuk menjadi kepala syahbandar pelabuhan gresik, dan juga ibu angkat dari Raden Paku / Joko Samodro / Ainul Yaqien / Prabu Satmoto, alias Sunan Giri. Nyai Ageng Pinatih wafat tahun 1483 M.

Makam PUSPONEGORO

Makam PUSPONEGORO

Pusponegoro adalah Bupati pertama Gresik tahun 1617.Komplek makam  Pusponegoro merupakan bagian dari komplek pemakaman yang terdapat di  Gapuro Sukolilo, pemakaman khusus keturunan keraton (darah biru). Seperti halnya makam yang terdapat di komplek pemakaman Gapuro Sukolilo, nama Tumenggung Ario Negoro. Dikenal sebagai komplek pemakaman Asmarataka, dan sekarang dikenal dengan komplek pemakaman Pusponegoro. Komplek pemakaman ini bersebelahan dengan komplek wisata religi Malik Ibrahim.

Komplek pemakaman ini unik, karena dikelilingi bangunan tua yang terbuat dari batu bata putih dan untuk pusaranya yerbuat dari ukiran batu kali.
Didalam komplek makam Pusponegoroterdapat beberapa makam antara lain :
*Pintu masuk / timur Padu Rekso.
* Pintu samping / Padu Rekso II / sisi timur.
* Samping makam Pusponegoro / Padu Rekso.
* Terdapat juga batu Lingga dan ukiran di makam.
* Makam Kyai Tumenggung Djojodiredjo.
* Makam Kyai Tumenggung Soeronegoro.
* Gapura pintu makam.

Komplek Makam Islam Tertua di Gresik

FATIMAH BINTI MAIMUN (Makam panjang desa Leran)
Makam Fatimah binti Maimun terletak di desa Leran Kecamatan Manyar, tepatnya 5 Km dari kota gresik.
Makam ini adalah makam islam tertua di Indonesia.
Singkat cerita, Siti Fatimah Binti maimun adalah seorang puteri raja dari kerajaan Gedah, yang ketika singgah di pelabuhan gresik, kemudian sakit dan meninggal pada tahun 1082 M, dan kemudian dimakamkan di desa Leran.

Dan di area makam Fatimah Binti maimun terdapat makam panjang atau yang lebih dikenal dengan  sebutan Kubur Panjang.


Wisata Religi Kanjeng Sepuh Sedayu

Wisata Religi ke Makam Kanjeng Sepuh Sedayu

Kota Gresik yang terletak di sebelah Barat Laut Kota Surabaya berjarak sekitar 18 km, merupakan kota industri terbesar Jawa Timur, Indonesia. Selain pabrik Semen Gresik yang cukup terkenal di seluruh Indonesia, juga terdapat Petro Kimia, BUMN produsen pupuk nasional, Maspion, Behaestex, produsen sarung dengan merk-merk ternama, serta Wings Corporation yang memproduksi Mie Sedaap di Gresik.

Selain mempunyai julukan sebagai Kota Industri, Gresik juga menjadi salah satu kota tujuan wisata religi. Di kota ini terdapat Makam Sunan Maulana Malik Ibrahim yang merupakan salah satu dari 9 wali, penyebar agama Islam pertama di Jawa Timur, dan dimakamkan di Kampung Gapura Gersik.

Sekitar 2 km di sebelah selatan kota, tepatnya di Bukit Giri juga dapat ditemui Makam Sunan Giri, yang juga merupakan salah satu dari 9 wali penyebar agama Islam di pulau Jawa. Upacara peringatan wafatnya Sunan Giri (Haul Sunan Giri) juga dijadwalkan dalam kalender wisata Jawa Timur. Ada juga makam Mbah Sindujoyo dan makam pejuang Usman dan Sadar di sebelah selatan pasar Gresik tepatnya di daerah karangturi.

Selain itu juga terdapat Makam Panjang Leran (Kubur Panjang) yang merupakan Makam Siti Fatimah binti Maimun. Terletak di Desa Leran, Kecamatan Manyar dengan jarak sekitar 8 km dari Kota Gersik. Obyek-obyek wisata lainnya, meliputi Makam Gapura Kanjeng Tumenggung Pusponegoro di Desa Gapuro, Makam Nyi Ageng Pinatih di Desa Kebongson.

Berjarak sekitar 20 km di sebelah utara Kota Gresik dapat dijumpai Makam Pentung, Makam Sayyid Iskandar, dan Makam Joko Klontang, di Desa Kisik Bungah. Sekitar 4 km sebelah utara Bungah terdapat Komplek Kanjeng Sepuh. Tepatnya di Desa Kauman Sedayu. Di komplek inilah Makam Kanjeng Sepuh alias Kyai Panembahan Haryo Soeryo Diningrat, Adipati ke-8 Kadipaten Sedayu dapat diziarahi.

Selain meninggalkan Masjid, Kanjeng Sepuh juga meninggalkan situs penting lainnya yang berupa Telaga Rambit dan Sumur Dhahar. Masing-masing bertempat di Desa Purwodadi dan Golokan. Menurut cerita masyarakat Sedayu, keunikan dari keduanya adalah, pemanfaatannya sebagai air minum dan dikonsumsi oleh sebagian besar masyarakat Sedayu, namun sumber mata airnya tidak pernah mengering dan habis walaupun pada musim kemarau.

Setiap hari Jum’at Pahing, makam Kanjeng Sepuh juga selalu ramai diziarahi oleh para peziarah yang datang dari luar daerah. Pada hari inilah puncak keramaian Kota Sedayu. Tradisi ini banyak mempengaruhi mobilisasi ekonomi masyarakat Sedayu. Selain membludaknya pengunjung Pasar Pahing, magnet ini juga mampu menciptakan Pasar Tiban (istilah untuk memahami datangnya para pedagang keliling/tidak tetap dan secara tiba-tiba). Diakhiri dengan Shalat Jum’at di Masjid Besar Kanjeng Sepuh Sedayu, aktifitas di sore hari akan terasa lebih lengang.

Ba’da Shalat Jum’at, anda juga bisa menikmati lezatnya makanan khas Jawa Timur, mulai dari Sego Rawon, Sego Bebek, Sego Krawu, Soto Lamongan dan Sate Madura, dengan minuman Es Legen, Es Dawet, dll. Untuk dapat menikmati semua wisata kuliner tersebut, anda tinggal keluar menuju Pertokoan Kanjeng Sepuh yang terletak berderet di sepanjang Gapura Selamat Datang sampai pintu masuk Komplek Kanjeng Sepuh.

Setelah menikmati santapan makan siang, anda dapat menetukan pilihan perjalanan. Ke arah Kota Tuban, berarti akan melewati Goa Surowiti dan Goa Angin-Angin yang terletak di Kecamatan Paceng menuju ke Lamongan dan bertemu dengan taman Wisata Bahari Lamongan (d/h Tanjung Kodok), Gua Maharani dan Makan Sunan Derajat. Sementara ke arah Kota Surabaya anda akan memasuki Kawasan Industri di pusat Kota Gresik.

Tepat di perlintasan Surabaya-Gresik-Lamongan-Tuban inilah Kota Sedayu yang mempunyai julukan Kota Pondokan Cilik (istilah untuk menyebut pesantren anak-anak) dengan berbagai keunikannya dapat dikunjungi.

Sekilas tentang Kanjeng Sepuh Sedayu

Bupati Kanjeng Sepuh Sedayu Dikenal Antidiskriminasi

Kecamatan Sidayu adalah salah satu di antara 18 kecamatan di Kabupaten Gresik saat ini. Namun, kecamatan tersebut meninggalkan bukti-bukti sejarah kebesaran sebagai bekas sebuah Kadipaten.

Jejak sejarah Kabupaten Gresik tertapak jelas di bekas Kadipaten Sedayu yang kini menjadi Kecamatan Sidayu. Berbagai peninggalan masih membekas sebagai ikon sebuah kadipaten di zaman penjajahan Belanda. Ada pintu gerbang dan pendapa keraton. Ada pula masjid dan alun-alun, telaga dan sumur sebagai sumber air Sedayu. Bangunan tersebut termasuk sebuah situs yang kini seperti onggokan bangunan tidak bermakna.

Diperkirakan, situs itu berusia satu abad. Situs tersebut dibangun menjelang perpindahan Kadipaten Sedayu ke wilayah Kadipaten Jombang oleh penjajah Belanda pada sekitar 1910. Sejak berdiri pada 1675, Kadipaten Sedayu dipimpin oleh sedikitnya sepuluh adipati. Adipati yang paling dikenal adalah Kanjeng Sepuh Sedayu.

Meski hanya sebuah kecamatan, Sidayu memiliki alun-alun yang cukup luas dan bangunan-bangunan tua yang cukup megah. Itu merupakan pertanda bahwa Kota Sedayu, atau yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan Kecamatan Sidayu, dulu merupakan kota tua yang pernah jaya.

Sebelum akhirnya menjadi bagian yang terintegrasi dengan Kabupaten Gresik, Sedayu merupakan wilayah kadipaten tersendiri pada masa pemerintahan Mataram. Istimewanya, Kadipaten Sedayu saat itu mempunyai koneksitas kewilayahan secara langsung di bawah kekuasaan Raja Mataram Prabu Amangkurat I dengan adipati pertama bernama Raden Kromo Widjodjo.

Namun, sejarah Kadipaten Sedayu mencatat nama harum adipati ke-8, yaitu Kanjeng Sepuh Sedayu. Kanjeng Sepuh dianggap sebagai aulia dan pemimpin besar Kadipaten Sedayu yang layak mendapatkan penghormatan.

Kiprahnya yang kritis terhadap kekuasaan dan kooptasi Belanda atau kerajaan lain waktu itu dikenang cukup positif. Di mata warga Sedayu maupun keturunannya, hingga kini nama Kanjeng Sepuh tetap harum sebagai pemimpin yang berpihak kepada rakyat selama memerintah Sedayu pada 1816-1855.

Untuk memperingati kebesaran Kanjeng Sepuh Sedayu sebagai adipati maupun ulama, masyarakat setempat setiap tahun mengadakan haul dan istighotsah akbar di Masjid Kanjeng Sepuh Sedayu. Acara berlangsung meriah. Sehingga prosesi itu menjadi tradisi masyarakat untuk mengenang jasa adipati yang bergelar lengkap Kyai Panembahan Haryo Soeryo Diningrat, yang wafat pada 1856.

Catatan (alm) K. Ridwad Ahmad dari Djawatan Penerangan RI Kecamatan Sidayu tanggal 25 Februari 1957 menyebut, Kanjeng Sepuh Sedayu adalah seorang ahli strategi. Banyak jasa Kanjeng Sepuh untuk menenteramkan rakyatnya sekaligus melindungi mereka dari berbagai teror selama masa penjajahan Belanda, (Gus Amrullah, tokoh muda Sedayu yang masih keturunan ke-5 Kanjeng Sepuh).

Keberanian Kanjeng Sepuh menentang kebijakan Belanda tentang pajak juga menjadi catatan. Adipati dengan berani mengusulkan memberi nama sebuah pasar di Surabaya dengan nama Kabean (Pabean), yang berarti untuk semua, dalam sebuah rapat dengan pemerintah Belanda waktu itu. Maksudnya, beliau menolak diskriminasi dan kenaikan pajak yang dikehendaki Belanda. Sebab, waktu itu Belanda punya iktikad untuk membeda-bedakan pedagang dengan maksud menaikkan pajak. Pasar tersebut saat ini dikenal dengan nama Pasar Pabean.

Beliau juga dekat dengan rakyat. Diam-diam, di malam hari, beliau berkeliling ke seluruh wilayah kadipaten, yang meliputi Sedayu, Lamongan, Babat, hingga Jombang, untuk melihat keseharian dan problem masyarakatnya. Itu seperti yang dilakukan Amirul Mukminin Khalifah Umar bin Khattab. (Gus Amrullah dan H. A. Khoiruzzaman/Ketua Remaja Masjid Kanjeng Sepuh Sedayu).

Berbagai peninggalan sejarah Sedayu telah mendapatkan perhatian Dinas Purbakala Trowulan. Namun, yang terawat baru kompleks masjid dan makam. Sisa bangunan lain berupa situs. Status pertanahan sisa-sisa sejarah itu kini belum tersentuh. Salah satunya, reruntuhan asli bekas bangunan masjid di Desa Mriyunan, Sumur Dhahar di Desa Golokan, dan Telaga Rambit di Desa Purwodadi yang nampak tidak terawat.

Puing reruntuhan bangunan masjid tersebut kini terletak di dalam kompleks SMPN Negeri I Sidayu. Kondisinya sangat memprihatinkan. Sama sekali tidak tampak ada upaya pemeliharaan dari Pemkab Gresik. Sekadar identitas bangunan bersejarah pun tidak ada. Bahkan, sebagian bekas puing bisa ditemukan di kandang ayam.

Belum lagi kondisi Sumur Dhahar yang kini menjadi tempat pembuangan sampah. Tidak terdapat museum atau bau harum ketika kita berkunjung ke sana, namun bukitan sampah yang kotor dan berbau menyengat.

Tetapi terlepas dari semua itu, Kota Sedayu yang kini menghadapi perkembangan modernitas masyarakat, ia bisa tetap eksis sebagai salah satu kecamatan yang cukup berkembang di wilayah Gresik utara. Bukanlah sesuatu yang istimewa, jika Sedayu saat ini bisa menjadi pusat peradaban masyarakat pesisir yang begitu berkembang, baik di wilayah Gresik (Sedayu dan sekitarnya; Bungah, Dukun, Ujung Pangkah, dan Panceng), maupun wilayah Lamongan (Paciran, Brondong, Solokuro, Babat). Karena Sedayu sudah pernah mengalami masa kejayaan di masa lalu.

Dengan bukti adanya ratusan Pondokan Cilik (pesantren anak-anak) yang tersebar di seantero Kota Sedayu, kota ini juga mampu mempertahankan sebutan kota santri yang telah melekat dan menjadi ikon Kabupaten Gresik. Karena secara kultural, kehidupan masyarakat Sedayu adalah kehidupan yang sangat islami, baik dalam bidang sosial-masyarakat, politik, hukum, dan ekonomi.

Gresik, Kota Seribu Makam

Gresik, Kota Seribu Makam
Selama ini, Gresik dikenal sebagai kota santri. Tapi bahwa sejarah panjang terbentuknya kota Gresik tidak bisa dilepaskan dari sepak terjang pada auliya yang kini banyak di makamkan di Gresik, menjadikan kota ini disebut kota seribu makam.

Kota Gresik disebut sebagai kota santri, barangkali semua orang maklum. Tapi disebut kota seribu makam? Mungkin masih menimbulkan perdebatan. Tapi Suryono, Kepala Dinas Pariwisata Gresik, tidak menampik. Bahkan beliau menegaskan, sebutan itu perlu dimengerti sebagai kota yang paling banyak terdapat makam auliya (para wali)-nya, dibanding daerah lain.
"Di samping jumlahnya banyak, perlu ditambahkan bahwa kualifikasi mereka yang di makam bukan orang kebanyakan. Mereka orang yang memiliki kelebihan dibanding masyarakat umum. Status mereka para wali atau kerabat wali," katanya tandas. Artinya, secara historis mempunyai keteladanan dan secara agama memiliki kelebihan.
Secara historis, sepak terjang para auliya itu, baik langsung maupun tidak, beperan dalam pembentukan kota Gresik. Karena itu sejarah panjang kota Gresik, tak bisa dilepaskan dari sejarah panjang mereka. Bahkan sampai mereka telah dikuburkan selama ratusan tahun lalu.
Ditegaskan, makam itu bisa menjadi medium mengenang, meneliti dan menjadi suri tauladan bagi generasi setelahnya. Karenanya, ada tradisi meruwat makam. Ruwatan itu bisa dilakukan dengan acara-acara khaul, mengirim doa-doa dan sebagainya. Tujuannya, untuk mengingat kembali orang-orang yang telah dimakamkan. "Itu yang terus dikembangkan bagi generasi mendatang," imbuhnya.
Secara persis berapa jumlah makam para wali di Gresik, kata Suryono, secara otentik masih terus dikembangkan. Tapi setidaknya sudah ada paguyuban para pengelola makam auliya yang aktif mengikuti pertemuan-pertemuan untuk pengembangannya. Mereka yang ikut aktif sekitar 50 orang, sementara jumlahnya diperkirakan mencapai 300-an tempat makam auliya, sampai pulau Bawean.
Nama dan jumlah makam yang sudah dikenal umum, ia akui, identifikasinya bukan sekaligus. Pengidentifikasian itu telah melalui proses panjang. Sepanjang usia makam itu sendiri. Dengan demikian, tuturnya, tidak menutup kemungkinan akan dikenali lagi makam-makam auliya yang lain yang tersebar di seluruh daerah Gresik.
Upaya pencarian itu dilakukan oleh dinas pariwisata bersama dengan orang-orang yang sudah tergabung dalam paguyuban. Justru upaya terbesar diharapkan dilakukan oleh mereka yang tergabung di paguyuban, karena mereka dinilai lebih intens, sehingga memudahkan untuk pengenalan terhadap makam-makam yang masih anonim.
Makam-makam yang sudah diketahui umum, sering didatangi peziarah dari seluruh Indonesia. Kegiatan ziarah itu, diakui Suryono, masih sebatas ziarah belum dikemas sebagai kegiatan wisata.
Dalam konteks pariwisata, boleh dikatakan sebagai wisata pilgramek (pariwisata keagamaan). Katanya, mereka kadang tidak mau disebut berwisata. "Tapi dari kacamata pariwisata, mereka sudah bisa disebut berwisata, mereka wisatawan," tandasnya. Harapannya, dari berbagai usulan masyarakat, nanti akan dikembangkan menjadi tempat wisata keagamaan sesuai kategorinya.
Sementara ini, perawatan terhadap makam masih dilakukan sendiri-sendiri. Seperti tradisi khaul dan semacamnya. Belum dilakukan secara holistik, artinya seluruh pihak ikut terlibat dalam penanganan. Tapi secara bertahap, menurutnya, akan dikembangkan menjadi obyek-obyek wisata keagamaan. Secara perlahan, bangunannya akan dipercantik, gapura masuknya dibuatkan, sarana-prasarana disediakan.

Kuburan Panjang
Sementara ini makam yang sudah dikenali jumlahnya puluhan. Makam-makam itu secara historis memiliki keterkaitan dengan sejarah, baik sejarah penyebaran agama di tanah Jawa maupun sejarah pemerintahan pertama di Gresik. Di wilayah
kota Gresik saja, bila dirunut akan ditemukan makam para wali, selain yang sudah akrab di telinga.
Simak misalnya, makam Maulana Malik Ibrahim di Desa Gapuro. Wali yang dikenal dengan Syeh Maghribi, adalah tokoh penyebar agama Islam yang datang ke Jawa Timur sebagai pedagang. Kehadirannya di kota Gresik ini membuat agama Islam berkembang dengan pesat. Ia dikenal sebagai orang yang pertama memperkenalkan sistem pendidikan pondok pesantren yang dikenal sampai sekarang. Makam tersebut mempunyai keunikan, batu nisannya bertuliskan huruf Arab model Kafi.
Menurut Maksum, pengurus harian yayasan Maulana Malik Ibrahim, di area makam ini terdapat makam lain, yakni makam Syekh Maulana Ishak (bapak Sunan Giri), dan Syekh Maulana Magrabi (penasehat Malik Ibrahim). Selain di dua cungkup itu, juga terdapat sekitar 50 makam, yang dipercaya mereka adalah para santri Malik Ibrahim.
Di bukit Giri, di desa Giri Kebomas, disamping terdapat makam Sunan Giri, juga terdapat makam lain yang rata-rata memiliki sejarah yang hebat di masanya. Sebut misalnya Syekh Hujjah (penasehat Sunan Giri) yang konon dari Pasai. Syekh Grigis (penasehat), Mbah Dekah (keturunan), Sunan Prapen (cucu), Mbah Singolodro (prajurit), dan Raden Supeno (putera, meninggal waktu bayi).
Di samping itu terdapat makam Kanjeng Sunan Dalam, Kanjeng Sunan Sedo Ing Margi, Kanjeng Sunan Prapen (ketiganya pemimpin di Giri Kedhaton dan mengalami masa kejayaan). Dan makam Panembahan Kawis Guwo, Panembahan Agung, dan Panembahan Mas Witono (penerus kepemimpinan Sunan).
Makam-makam di sini mempunyai daya tarik tersendiri. Disamping merupakan makam wali yang keramat dan mempunyai nilai tersendiri dari pada makam-makam kuno lainnya, bangunannya dihiasi ukiran indah dan artistik. Yang paling tampak adalah Gapura pintu masuk terdapat patung Naga Bentar, naga dengan mahkota di kepalanya. Jaraknya sekitar 8 km dari pusat kota.
Di tengah kota juga ada makam Nyai Ageng Pinatih (Syah Bandar Gresik). Makamnya terletak di tengah kota Gresik, di Desa Kebungson berjarak sekitar 300 meter sebelah utara alun-alun kota Gresik.
Di Leran Kecamatan Manyar, terdapat makam Fatimah Binti Maimun. Merupakan salah satu tokoh yang penting dalam mengungkapkan sejarah masuknya Agama Islam di Pulau Jawa. Selain Siti fatimah, dayang-dayangnya juga dikuburkan di sana. Seperti putri Kamboja, putri Kucing, putri Keling dan Nyai Seruni.
Dimakam ini terdapat peninggalan sejarah berupa gapura, krepyak dan prasasti batu tertulis. Jaraknya sekitar 8 km dari kota Gresik. Di lingkungan makam ini, dikenal orang dengan sebutan makam panjang. Terdapat sekitar lim amkam, panjangnya mencapai 7 x 2 meter. Makam panjang itu diantaranya makam Sayid Dja'far, Sayid Kharim, Sayid Syarief, Sayid Djamaluddin, Sayid Djalal dan Sayid Djamal.
Di beberapa daerah lain, masih banyak makam yang juga dikenal luas masyarakat. Seperti Kyai Qamaruddin di Bungah dan Kanjeng Sepuh di Sidayu. Makam-makam lain di luar pusat kota rata-rata belum dikembangkan sebagaimana tempat wisata keagamaan atau wisata budaya semestinya.

Kendala dan Potensi
Seperti diakui Suryono, kendala utama untuk mengembangkan makam-makam itu sebagai tempat wisata, karena belum ada manajemen yang menyeluruh. Manajemen yang diterapkan selama ini, hanya dilakukan secara parsial oleh masyarakat di mana makam itu berada. Kegiatan yang dilakukan paling-paling sebatas khaul, tahlilan, dan semacamnya. Belum ada program khusus untuk menciptakan suasana wisata di tempat-tempat itu.

Seperti pengalaman Moh Hasan, 56, Sekretaris Yayasan Sunan Giri, bahwa untuk membuat suasana nyaman, tempat sekitar makam harus diperhatikan. Mulai kebersihan, perawatan bangunan, listrik dan air, perlu dijaga agar tidak mengganggu kenyamanan pengunjung. Tapi untuk semua itu membutuhkan biaya dan dukungan manajemen yang rapi, terutama dari dinas pariwisata, misalnya.
"Sekarang sudah ditetapkan, bahwa untuk perawatan makam adalah menjadi tanggung jawab bersama. Artinya dari masyarakatnya, pengurus yayasannya, maupun pemerintahnya. Jadi kalau kekurangan apa-apa, ya mestinya ditanggung bersama," harapnya.
Kendala lain di luar manajemen, seperti pengalaman di Giri, menurutnya, pengemis dan pedagang kaki lima. Diakui keberadaan mereka sedikit banyak mengganggu kegiatan para peziarah. Tapi di mana-mana kenyataan ini selalu muncul dan tak mudah ditangani. Walau mereka dibersihkan dari lokasi makam, akan selalu kembali besoknya lagi.
Seperti juga diakui Maksum, pihaknya tidak pernah minta-minta bantuan untuk perawatan makam Maulana Malik Ibrahim. Dua bangunan cungkup yang memayungi makam, dibenahi dengan biaya dari sedekah para peziarah. Bahkan ruang berdzikir yang ada di samping makam, juga dibangun sendiri dari sumber sedekah itu.
Belum lagi bicara soal benda-benda cagar budaya yang mesti dijaga keadaannya. Seperti peninggalan-peninggalan para auliya yang sudah didaftar sebagai benda cagar budaya, atau yang belum didaftarkan tapi harus dijaga. Semua itu memerlukan keseriusan semua pihak untuk sama-sama merawatnya, bila pun perlu memerlukan dana.
Padahal, seperti dalam laporan yayasan-yayasan itu, bahwa pengunjung yang datang ke makam, selama 1999-2003, tidak kurang ada 228 wisatawan asing, dan 7.462.115 wisatawan lokal. Jumlah itu hanya menghitung yang sempat terdata. Tidak menutup kemungkinan, banyak yang lolos dan tak sempat terdata.
Dari jumlah itu sebenarnya, kata Suryono, sangat potensial untuk dikembangkan di daerah-daerah lain yang layak. Dalam beberapa waktu ke depan, lanjutnya, akan dikembangkan lokasi wisata budaya baru, tepatnya di Surowiti. Meski bukan makam, tapi Surowiti adalah petilasan yang pernah digunakan kegiatan Sunan Kalijaga. "Kita akan lengkapi sarana-prasaran ke sana. Termasuk beberapa aktivitas puncak gerakan nasional rehabilitasi hutan dan lahan terpadu pada 18-2 kita pusatkan di sana," tambahnya. Kegiatan-kegiatan lain peneint diadakan untuk membackup kegiatan pariwisata di situ. Di Surowiti juga ada gua-gua yang ke depannya nanti akan di set up sehingga layak sebagai obyek wisata," imbuhnya.-tono w.